Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Ujian Nasional Untuk Siapa?

Hari ini 10 Mei 2011 siswa SD di seluruh Indonesia melaksanakan Ujian Nasional. Hari ini juga semua yang mempunyai kepentingan was-was, deg-degan, detak jantung berdenyut dengan cepat. Kepala Sekolah dengan berbagai cara berusaha untuk meningkatkan kepandaian siswa agar siswa dalam ujian nasional nati mampu mndapat nilai sempurna. Mulai dari les pelajaran yang di UAN kan, melaksanakan try out mulai Kecamatan, Kabupaten, dan Poropoinsi, itu semua dilakukan untuk persiapan UN.  Ketika mereka tahu bahwa ada siswa yang dapat nilai rendah dalam persiapannya tentu semua elemen berpikir bagaimana siswa tersebut dalam UN nanti paling tidak dapat nilai  yang baik. Nah dalam pelaksanaan UN hari ini masihkah ada siswa yang lepas dari pengawasan sehingga bisa menyontek atau bertanya ke temannya atau peserta ujian leluasa saling lempar jawaban? atau justru pengawas sendiri membantu siswa dalam pengerjaan soal? 
Berangkat dari hal tersebut diatas akibat terjelek bagi siswa adalah tidak lulus. Dua kata tersebut tentu berdampak sangat luas bagi sekolah. Malu, tentu diterima oleh seluruh elemen sekolah, selain itu akan berimbas ke citra sekolah dimasyarakat akan turun sehingga akan mempengaruhi PSB. Bagi sekolah yang  sukses dalam UN akan mendapat sanjungan dari berbagai pihak dan tentu ada nilai tambah dari masyarakat. Dan apabila jeblok  banyak kepala sekolah yang stress, malu mau ditaruh mana muka ini, takut jika kedudukannya digeser, dipindah ke daerah pinggiran, dapat semprot dari atasan. Begitu juga bagi Pengawas atau Kepala UPTD diatasnya kepala Diknas Kabupaten ketakutan itu pasti mengisi relung hatinya yang paling dalam, mungkin bagi mereka mudah jika ada kegagalan anak buahnya tinggal cas cis cus pada bawahan bisa terkurangi bebannya.
Sesungguhnya Ujian Nasional ini untuk siapa? Semua ini bagai mata rantai yang saling bertautan dan tak terpisahkan.
Semoga uneg-uneg yang ringan ini menjadi renungan bagi saudaraku semua.Amien.
read more →

Manfaat Sayur Bayam

Kandungan zat yang terdapat dalam sayur bayam
adalah: zat besi yang berupa Fe2+ (ferro), jikalau bayam terlalu lama berinteraksi dengan O2 (Oksigen), maka kandungan Fe2+ pada bayam akan teroksidasi menjadi Fe3+ (ferri). Meski sama-sama zat besi, yang bermanfaat untuk manusia adalah ferro, lain halnya dengan ferri yang bersifat racun. Jadi jangan sekali-sekali untuk memanaskan sayur bayam yang sudah melalui proses pemasakkan dalam bentuk makanan.

Secara umum, bayam dapat meningkatkan kinerja ginjal & melancarkan pencernaan. Daun bayam digunakan untuk membersihkan darah sehabis bersalin, memperkuat akar rambut serta mengobati tekanan darah rendah, kurang darah (anemia) dan gagal ginjal.

Selain manfaat diatas, sayur bayam memiliki khasiat untuk mencegah hilangnya pengelihatan akibat usia yang menua (macular degeneration), penyakit kanker, katarak dan bayi lahir cacat. Bayam adalah sumber lutein dan folate yang hebat, yang membantu mencegah penyakit jantung & bayi yang lahir cacat.

Kandungan folic acid yang ada di bayam juga mampu melindungi otot jantung dari meningkatnya kadar glukosa yang mudah larut dan mengandung B9. Vitamin ini biasanya menjadi suplemen bagi perempuan yang mengandung untuk melindungi bayi dari cacat pada bagian syaraf.

Manfaat Bayam lainnya, mengurangi pembentukan batu empedu sebab bayam kaya magnesium di samping ikan, kacang almon kering, alpukat, pisang, kismis.Sayur bayam  juga memberikan zat besi pencegah anemia namun zat besi di dalam bayam tidak mudah diserap.
read more →

Jihad Dalam Pendidikan

Jihad Pendidikan dan Memberantas Kemiskinan

Dalam beberapa dekade belakangan istilah jihad kembali berkumandang di dunia Islam. Dalam praktiknya, jihad diterapkan dalam berbagai bentuk. Namun sayangnya, pemahaman jihad belum tentu utuh sebagaimana dikehendaki ajaran Islam sendiri. Apalagi sejak isu terorisme setelah peristiwa 11 September 2001 lalu, pengertian jihad adakalanya terdistorsi tindakan yang berbentuk terorisme. Jihad dalam pengertian ini cenderung mengalami penyempitan makna…
Pemahaman jihad yang cenderung ekstrim ini sekarang melanda di Indonesia. Untuk lebih memahami apa sebetulnya makna jihad terutama dalam konteks masa sekarang, tim Suluh Nagari mewawancarai RB. Khatib Pahlawan Kayo, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat. Berikut petikannya:
Belakangan ini, di dunia Islam termasuk di Indonesia muncul sekelompok kecil gerakan Islam yang melakukan aksi–aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Namun, mereka menyebut aksi kekerasan itu sebagai jihad. Bagaimana tanggapan Bapak?
Sebelumnya kita harus melihat terlebih dahulu aspek yang mendorong aksi-aksi itu. Istilah terorisme sebenarnya muncul dari pihak lain yang cenderung ingin menyudutkan umat Islam, sehingga tindakan-tindakan yang tak sesuai dengan keinginan mereka atau yang merugikan mereka, pelakunya disebut teroris. Tapi di sisi lain penempatan istilah jihad juga tidak tepat untuk menyebut tindakan-tindakan segelintir umat Islam yang tidakannya merugikan orang banyak, karena tidak sesuai dengan tatakrama, bertentangan dengan hukum yang ada. Karena jihad itu dalam Islam memiliki batas-batas pengertian. Tidak semuanya jihad mesti diartikan perang, membunuh, apalagi merusak. Jihad itu mestinya mengarah pada perjuangan yang menuntut pada tegaknya kebenaran, keadilan, yang ujung-ujungnya adalah kemaslahatan. Lebih dari itu membuktikan, melalui jihad itu orang bisa menikmati Islam itu sebagai rahmatan lil’alamin.
Jadi sebenarnya apa makna jihad?
Jihad itu adalah dalam rangka mewujudkan kesungguhan kita dalam berislam, dalam mewujudkan hakikat Islam itu dalam konteks perjuangan. Perjuangan itu ada dalam beberapa bentuk yakni perjuangan akidah, ibadah, akhlak dan muamalah. Jihad itu tak mesti tindakan-tindakan frontal, perjuangan melalui hati pun sudah bisa disebut jihad, misalnya berjuang untuk tetap istiqamah, ini adalah jihad qalbi atau jihad individual. Jihad kolektif bisa dilakukan melalui organisasi. Adanya upaya yang sungguh-sungguh dari berbagai organisasi Islam untuk memberantas kemiskinan, itu juga jihad. Mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mendirikan sekolah-sekolah, melakukan berbagai penelitian dan pengkajian, itu juga jihad. Jadi jihad itu punya pengertian yang amat luas dan nilai-nilai yang mendukungnya juga murni. Cuma orang-orang tertentu saja yang mengartikan jihad itu menjadi sempit dan ekstrim. Jihad dalam pengertian perang bisa juga dibenarkan sebagaimana Nabi pernah melakukannya tapi situasinya harus dilihat dengan benar apa alasan yang membuat peristiwa itu mesti terjadi. Itu hanyalah salah satu bentuk kecil dari jihad. Islam jauh lebih luas dari sekadar itu.
Tapi ada elemen-elemen umat Islam yang memahami jihad itu dalam pengertian yang cenderung berwajah keras. Membunuh orang yang dianggap musuh Islam (orang kafir) atau merusak tempat-tempat yang dianggap sebagai sarang maksiat dipandang sebagai jihad. Padahal kita hidup di negara hukum yang mestinya dipatuhi. Bagaimana menurut Bapak?
Pemahaman dari kelompok-kelompok Islam yang seperti itulah yang tidak benar. Islam tak pernah mengajarkan cara yang seperti itu. Islam itu agama perdamaian, agama yang mengajak pada persaudaraan. Nabi sendiri dengan tegas menyatakan melindungi kafir zimni. Ini artinya, Islam menentukan dengan jelas ada koridor-koridor untuk suatu perbuatan. Ada aturan tentang kapan kita harus bertindak keras, dan kapan pula bertindak persuasif. Islam tak pernah mengajak orang pada keberingasan dan kebrutalan, karena Islam mengajak orang dengan dakwah. Perang di zaman Nabi itu adalah untuk menentukan mana yang hak dan batil. Kalau yang hak dan batil sudah jelas, Nabi menerima keanekaragaman hidup dalam bernegara dengan aturan hukum yang jelas, baik bagi umat Islam sendiri maupun umat lain. Itulah yang terjadi di Madinah. Umat Islam, Kristen, dan Yahudi merasa damai karena dipimpin oleh Islam yang benar. Islam yang benar itu adalah ya, Nabi Muhammad itu.
Bagaimana menyikapi sekelompok umat Islam yang cenderung ekstrim itu?
Memang perlu kerja keras dan bertahap. Kita harus senantiasa menyosialisasikan dan membumikan Islam yang benar. Dalam hal ini para ulama, intelektual, tokoh masyarakat dan pimpinan ormas-ormas Islam berperan. Itulah yang dicoba oleh Muhammadiyah dalam doktrin ajarannya selalu berusaha bagaimana kita ini menghormati hukum, tatakrama dan budaya yang berkembang di masyarakat. Makanya, sekarang yang dikembangkan adalah dakwah kultural. Bagaimana supaya yang dikembangkan di Muhammadiyah itu adalah kepribadian yang menjunjung tingggi harkat dan martabat manusia, membangun persatuan, saling tolong menolong, dan menghormati hukum yang berlaku di suatu negara. Mereka yang segelintir itu bukan berarti tidak memperjuangkan Islam yang benar, mereka memperjuangkan Islam juga. Tapi mungkin mereka tak lagi bisa bersabar melihat iklim yang tidak benar dan supremasi hukum yang tak tegak, korupsi yang menjadi-jadi dan jarak kehidupan antara yang kaya dan miskin itu terlalu jauh. Tapi saya yakin, tindakan mereka itu hanya akan berlangsung sementara sampai pada situasi mereka mulai bisa memahami orang lain dan masyarakat serta aparat pun mulai bisa memahami mereka yang segelintir itu. Saya merasa, itu lebih dikarenakan tekanan situasional, tetapi memang perlu usaha serius dari kita untuk mengajak saudara-sauadara kita untuk lebih jernih dalam menyikapi keadaan.
Dalam situasi sejarah hari ini, bagaimana kita mesti memaknai jihad itu?
Jihad itu harus diartikan dalam bentuk paling mendasar yakni kebersungguhan kita dalam rangka memperdayakan kehidupan masyarakat, umat, dan bangsa yang menuju pada peningkatan harkat dan martabat kemanusiaan. Hari ini misalnya, ada kelompok- kelompok masyarakat yang kaya, tapi kekayaannya itu tidak memberi pengaruh pada lingkungan, ada kelompok-kelompok yang memiliki kekuasaan tapi kekuasaannya itu juga tak memberi pengaruh pada kebaikan masyarakat. Itulah yang membuat sebagian orang menjadi eksklusif dan individualistis sehingga nilai-nilai kemasyarakatan, nilai pergaulan yang lebih harmoni kurang teperhatikan. Kondisi ini memancing pemahaman jihad yang tidak benar.
Di Sumatera Barat kita bersyukur ada usaha dalam bentuk peraturan ke arah yang lebih baik, misalnya Perda tentang Pemberantasan Maksiat, Perda Kembali ke Nagari dan Kembali ke Surau. Sekarang bagaimana kita berjihad untuk bisa mewujudkan apa yang tertuang dalam Perda-perda itu. Kembali ke Nagari dan kembali ke Surau sebenarnya berarti bagaimana kita kembali membumikan Islam yang sesungguhnya. Islam yang membawa kepada potret kehidupan yang damai. Itulah jihad kita saat ini. Itu akan terbukti kalau kita berjihad dalam bidang ekonomi, berjihad dalam bidang pendidikan, kesehatan dan sosial budaya. Hal ini akan menampakkan karakteristik kita sebagai orang Minang yang benar-benar menjadikan Islam sebagai agama. Sehingga jihad orang Minang itu adalah bagaimana mengembalikan orang Minang kepada Islam. Seperti kata pepatah, mengembalikan siriah ka gagangnyo, mengembalikan pinang ka tampuaknyo. Untuk itu semua, kita perlu jihad dari ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai dan semua elemen masyarakat.
Yang terberat yang dihadapi umat Islam Indonesia saat ini adalah problem ekonomi dan ketertinggalan dalam bidang pendidikan.  Bagaimana kita berjihad dalam kedua bidang ini mestinya?
Sistem pendidikan kita harus dirubah. Di samping penguasaan sains, mestinya pendidikan kita sekarang lebih diarahkan pada keterampilan dan keahlian. Tamatan perguruan tinggi itu semestinya menjadi sarjana yang benar-benar siap pakai. Dengan begini kita akan menghasilkan para sarjana yang lebih kreatif dan produktif. Dengan sistem pendidikan yang baik dan hasil pendidikan yang baik, akan berdampak pada perbaikan ekonomi. Pemerintah kita harapkan bisa memperbaiki sistem pendidikan yang tak hanya menghasilkan orang-orang yang sekadar punya gelar dan ijazah tapi adalah generasi yang mampu menciptakan lapangan kerja. Generasi terdidik yang bisa melahirkan karya nyata. Yang bisa meningkatkan produktivitas di bidang ekonomi. Sekarang di kampung-kampung dan juga di kota-kota banyak orang yang menganggur. Bukan hanya orang yang menganggur, tapi lahan juga banyak yang nganggur. Ini terjadi karena pendidikan kita tidak mengarah pada penciptaan dan produktivitas, sehingga nikmat alam yang diberikan Allah kepada kita jadi tidak termanfaatkan dengan baik.
Jadi mestinya jihad lebih fokus ke situ?
Ya. Berjihad memberantas kemiskinan dan berjihad meningkatkan mutu pendidikan. Sebab, semuanya bertolak dari sana.
 
26-May-2006
read more →

5 Pendidikan Anak Islam

Bunda, apakah ilmumu hari ini? Sudahkah kau siapkan dirimu untuk masa depan anak-anakmu? Bunda, apakah kau sudah menyediakan tahta untuk tempat kembali anakmu? Di negeri yang Sebenarnya. Di Negeri Abadi? Bunda, mari kita mengukir masa depan anak-anak kita. Bunda, mari persiapkan diri kita untuk itu.
Hal pertama Bunda, tahukah dikau bahwa kesuksesan adalah cita-cita yang panjang dengan titik akhir di Negeri Abadi? Belumlah sukses jika anakmu menyandang gelar atau jabatan yang tertinggi, atau mengumpulkan kekayaan terbanyak. Belum Bunda, bahkan sebenarnya itu semua tak sepenting nilai ketaqwaan. Mungkin itu semua hanyalah jalan menuju ke Kesuksesan Sejati. Atau bahkan, bisa jadi, itu semua malah menjadi penghalang Kesuksesan Sejati.
Gusti Allah Yang Maha Mencipta Berkata dalam KitabNya:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS 3:185)
Begitulah Bunda, hidup ini hanya kesenangan yang menipu, maka janganlah tertipu dengan tolok ukur yang semu. Pancangkanlah cita-cita untuk anak-anakmu di Negeri Abadi, ajarkanlah mereka tentang cita-cita ini. Bolehlah mereka memiliki beragam cita-cita dunia, namun janganlah sampai ada yang tak mau punya cita-cita Akhirat.
Kedua, setelah memancangkan cita-cita untuk anak-anakmu, maka cobalah memulai memahami anak-anakmu. Ada dua hal yang perlu kau amati:
Pertama, amati sifat-sifat khasnya masing-masing. Tidak ada dua manusia yang sama serupa seluruhnya. Tiap manusia unik. Pahami keunikan masing-masing, dan hormati keunikan pemberian Allah SWT.
Yang kedua, Bunda, fahami di tahap apa saat ini si anak berada. Allah SWT mengkodratkan segala sesuatu sesuai tahapan atau prosesnya.
Anak-anak yang merupakan amanah pada kita ini, juga dibesarkan dengan tahapan-tahapan.
Tahapan sebelum kelahirannya merupakan alam arwah. Di tahap ini kita mulai mendidiknya dengan kita sendiri menjalankan ibadah, amal ketaatan pada Allah dan juga dengan selalu menjaga hati dan badan kita secara prima. Itulah kebaikan-kebaikan dan pendidikan pertama kita pada buah hati kita.
Pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abitahalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/ penggolongan usia:
  1. Tahap BERMAIN (“la-ibuhum”/ajaklah mereka bermain), dari lahir sampai kira-kira 7 tahun.
  2. Tahap PENANAMAN DISIPLIN (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) dari kira-kira 7 tahun sampai 14 tahun.
  3. Tahap KEMITRAAN (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sebagai sahabat) kira-kira mulai 14 tahun ke atas.
Ketiga tahapan pendidikan ini mempunyai karakteristik pendekatan yang berbeda sesuai dengan perkembangan kepribadian anak yang sehat. Begitulah kita coba memperlakukan mereka sesuai dengan sifat-sifatnya dan tahapan hidupnya.
Hal ketiga adalah memilih metode pendidikan. Setidaknya, dalam buku dua orang pemikir Islam, yaitu Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) dan Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam), ada lima Metode Pendidikan dalam Islam.
Yang pertama adalah melalui Keteladanan atau Qudwah, yang kedua adalah dengan Pembiasaan atau Aadah, yang ketiga adalah melalui Pemberian Nasehat atau Mau’izhoh, yang keempat dengan melaksanakan Mekanisme Kontrol atau Mulahazhoh, sedangkan yang terakhir dan merupakan pengaman hasil pendidikan adalah Metode Pendidikan melalui Sistem sangsi atau Uqubah.
Bunda, jangan tinggalkan satu-pun dari ke lima metode tersebut, meskipun yang terpenting adalah Keteladanan (sebagai metode yang paling efektif).
Setelah bicara Metode, ke empat adalah Isi Pendidikan itu sendiri. Hal-hal apa saja yang perlu kita berikan kepada mereka, sebagai amanah dari Allah SWT.
Setidak-tidaknya ada 7 bidang. Ketujuh Bidang Tarbiyah Islamiyah tersebut adalah: (1) Pendidikan Keimanan (2) Pendidikan Akhlaq (3) Pendidikan Fikroh/ Pemikiran (4) Pendidikan Fisik (5) Pendidikan Sosial (6) Pendidikan Kejiwaan/ Kepribadian (7) Pendidikan Kejenisan (sexual education). Hendaknya semua kita pelajari dan ajarkan kepada mereka.
Ke lima, kira-kira gambaran pribadi seperti apakah yang kita harapkan akan muncul pada diri anak-anak kita setelah hal-hal di atas kita lakukan? Mudah-mudahan seperti yang ada dalam sepuluh poin target pendidikan Islam ini:
Selamat aqidahnya, Benar ibadahnya, Kokoh akhlaqnya, Mempunyai kemampuan untuk mempunyai penghasilan, Jernih pemahamannya, Kuat jasmaninya, Dapat melawan hawa nafsunya sendiri, Teratur urusan-urusannya, Dapat menjaga waktu, Berguna bagi orang lain.
Insya Allah, Dia Akan Mengganjar kita dengan pahala terbaik, sesuai jerih payah kita, dan Semoga kita kelak bersama dikumpulkan di Negeri Abadi. Amin. Wallahua’lam, (SAN)

Minggu, 10/08/2008
read more →

Penentu Nilai Akhir

Faktor Penentu Nilai Akhir. Terkadang orang tua dan guru hanya melihat nilai akhir di raport sebagai standar penilaian terhadap keberhasilan belajar anak didik. Hal ini tentu tidak adil bagi anak, karena banyak faktor yang mempengaruhi perolehan nilai akhir tersebut. Faktor-faktor tersebut adalah:
· Lingkungan
Apakah ayah dan ibu menyisihkan waktu untuk menemani anak belajar di rumah? Apakah tersedia jumlah guru yang mencukupi sehingga mampu memberikan perhatian kepada setiap murid? Apakah teman sebaya anak suka mengajak belajar bersama atau justru mengajak bermain hingga lupa waktu?
· Kondisi Psikis
Apakah ketika tes pengambilan nilai berlangsung kondisi anak sedang dalam keadaan tenang atau sedang sakit, sedih, marah, lelah atau ketakutan sehingga tidak bisa mengerjakan soal dengan maksimal?
· Fasilitas Pendukung
Apakah ada buku ensiklopedi dan alat peraga untuk praktek sehingga mempermudah anak memahami pelajaran? Atau anak hanya memiliki buku paket saja?
· Perbedaan Cara Belajar
Banyak guru yang mengajar hanya dengan cara belajar auditorial yang mengandalkan pendengaran. Ini sangat menyulitkan anak yang belajar dengan cara visual (penglihatan) serta kinestetis (gerakan).
· Perbedaan Jenis Kecerdasan Yang Dominan
Ada 8 jenis kecerdasan otak, yang umumnya tiap anak memiliki beberapa jenis yang lebih dominan, dan ini akan tercermin dalam cara belajarnya. Jika guru tak mampu mengakomodir semua jenis kecerdasan yang ada, anak menjadi sulit menerima materi pembelajaran.
Jadi, mulai sekarang, marilah kita belajar untuk menghargai hasil belajar anak apa adanya dengan memperhatikan kemampuan dan keunikan masing-masing anak.
read more →

Kejujuran Anak

Dikutip Dari Tulisan Abu Tamam Di Forum myquran.org (3 November 2008)Semoga bermanfaat, terutama bagi yg belum membacanya.
Untuk renungan para orangtua....
 
Ungkapan Jujur Seorang Anak

Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.

Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika:

"Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya menggeleng.

"Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya.

"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kami pun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya. Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas). Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."
Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja" Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ..."
Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu"
Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..."
Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya"
Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."
Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"
Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang ....."
Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja".
Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang ......",
Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku".
Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari ....."
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku"
Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari ...."
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata "tersenyum"
Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku. ..."
Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus"
Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku memanggilku .."
Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya. Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan".

Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam lingkungan rumah.

Semoga bermanfaat, dan menghasil generasi anak2 yang lebih baik.
read more →

Pilih Lembaga Pendidikan

Selama 7 tahun di Indonesia, Prof. Sandralyn Byrnes mengamati permasalahan pendidikan anak usia dini di Indonesia. Dari penelitian yang ia lakukan, dan menilai berdasarkan pengetahuannya sebagai profesor dan pengalaman sebagai guru anak-anak usia dini, ia menilai bahwa ada beberapa hal yang mengganjal pada pendidikan anak usia dini di Indonesia.

Saat ini, Profesor Sandralyn Byrnes bekerja sebagai kepala sekolah Royal Tots Academy, Kuningan, Jakarta. Dalam seminar kecil bertajuk "What's Wrong with The Early Childhood Education in Indonesia?", yang digelar saat event Giggle Playgroup Day 2011, gelaran Miniapolis & Giggle Management, Jumat, 11 Februari 2011, Sandralyn mengungkap beberapa hal tentang PAUD di Indonesia. Pertama, saat ini di Indonesia belum ada standar universal mengenai batasan bagi anak-anak yang disepakati bersama. Kedua, bahwa tenaga pengajar di kebanyakan lembaga PAUD masih butuh pendidikan yang terus di-update, dan butuh kerjasama antara lembaga terkait pendidikan anak usia dini untuk menyamaratakan, serta butuh kerjsama dari orangtua murid untuk membantu optimalisasi pendidikan anak.

Selama 7 tahun meriset dan mencari tahu mengenai proses pendidikan anak usia dini di Indonesia, Byrnes menemukan beberapa hal yang mengganjal. "Pada umumnya, kita semua tahu bahwa pendidikan anak usia dini itu penting, karena di usia inilah terjadi proses pembentukan pendidikan yang paling penting. Di usia inilah anak-anak harus membentuk kesiapan dirinya menghadapi masa sekolah. Investasi terbaik yang bisa Anda berikan untuk anak-anak adalah persiapan pendidikan mereka di usia dini. Hasil investasi ini akan dilihat di masa depan, selepas mereka dari sekolah. Kalau Anda salah pilih sekolah untuk anak usia dini, akan ada konsekuensi di masa depan anak," terang Byrnes yang mendapatkan titel Australia's and International of The Year ini.

Byrnes mengungkap kembali bahwa saat ini pendidikan anak usia dini di Indonesia belum merata, bahkan sertifikasinya pun tidak menjadi jaminan. "Jika Anda mau pendidikan yang terbaik untuk anak-anak, maka pencarian sekolah pendidikan anak usia dini menjadi pekerjaan rumah terpenting para orangtua. Cari dengan hati-hati, jangan tergesa-gesa," sarannya.

Perlu diketahui lagi, ungkap Byrnes, pendidikan anak usia dini di Indonesia tidak sama, karena tidak disubsidi pemerintah seperti kebanyakan negara lain. "Karena itu, lihatlah uang sekolah untuk anak di usia dini sebagai investasi. Ketahuilah bahwa proses pendidikan anak tidak dimulai dari sekolah dasar, tetapi dari anak usia 18 bulan," ungkap Byrnes

Dari hasil pengamatan Byrnes di Indonesia, ada banyak sekolah anak usia dini yang berembel-embel internasional dan franchise. Hanya segelintir yang mempertahankan kualitasnya, sisanya, tidak menjaga kualitasnya, termasuk tidak menjaga kualitas tenaga pengajarnya.

Sekolah harus menjaga kualitasnya, metodologinya harus di-update, perkembangan keprofesionalitasannya harus dipertahankan, perkembangan pengetahuan seputar pengajaran anak juga harus selalu ditingkatkan, ungkap Byrnes kepada Kompas Female usai seminar kecil tersebut.

Lalu, bagaimana cara memilih sekolah untuk anak usia dini yang terbaik? Byrnes menyarankan:
- Cek kurikulumnya. Ketahui apa saja yang akan diajarkan dan bagaimana cara pengajarannya.
- Bicara dengan gurunya. Lihat apakah ada gairah dari para guru untuk mengajar kepada anak-anaknya. Jika mereka hanya melakukan pekerjaan, percuma. Anak tak akan diperhatikan kebutuhannya, karena kebutuhan setiap anak itu berbeda. Tanyakan pula mengenai cara menghadapi anak, ungkap masalah anak Anda, dan perhatikan jawaban si guru. Guru yang  baik seharusnya tahu mengenai cara menghadapi anak-anak dengan berbagai kebutuhan.
- Bicara pula dengan kepala sekolahnya. "Seorang kepala sekolah harus tahu dan paham mengenai pendidikan anak usia dini. Jika Anda tahu orang yang memimpin mengerti tugasnya, Anda akan tenang dan yakin bahwa sekolah si anak berjalan ke arah yang benar," ujar Byrnes.
- Perhatikan pula lokasi belajarnya. Anak-anak masih belum paham benar apa yang aman dan tidak aman baginya. Pastikan lokasinya aman, tidak banyak benda-benda berbahaya bagi anak, serta bersih.
- Kunjungi sekolah di jam belajar. Lihat bagaimana anak-anak berinteraksi dengan sekelilingnya. Apakah ada senyum di sana? Apakah anak-anak di sana terlihat bahagia? "Kalau anak-anak usia dini itu tidak tertawa atau tersenyum, bisa dibilang ada yang tidak beres di sana," ungkap Byrnes. "Menurut saya, anak-anak juga harus bisa mendapat pelajaran di luar kelas. Mereka harus berinteraksi dengan alam untuk melatih motorik mereka," tambahnya.
- Nilai-nilai lain pun sebaiknya diajarkan di usia ini untuk masa depannya, seperti cara bersosialisasi, sikap sopan, dan sifat karakteristik yang baik.
- Perhatikan pula program yang dijalankan. "Seharusnya ada segitiga kerjasama tak terputus antara guru, sekolah, dan orangtua. Ketiganya harus bekerja dengan baik. Harus ada program lain, keterlibatan orangtua-anak di sekolah tak hanya sebatas antar-jemput sekolah."
Satu hal yang dipesankan Byrnes, jangan pernah menyerahkan pemilihan sekolah anak usia dini kepada si anak. "Anak-anak belum mengerti apa yang harus diperhatikan. Saya sering sekali melihat orangtua menanyakan kepada anak, 'Bagaimana sekolahnya? Kamu mau sekolah di mana?' Itu bukan cara yang tepat untuk memilih lembaga pendidikan anak usia dini. Orangtualah yang bertanggung jawab dan bertugas memilih sekolah yang terbaik untuk anak," tutup Byrnes.

Kompas- februari 2011
read more →